Senin, 19 Agustus 2013

Setelah upacara bendera, peci dan pin Garuda dikembalikan lagi

Denyut perayaan HUT RI ke-68 masih kita rasakan sampai H+2 hari ini. Ribuan bendera dan pernak pernik merah putih masih bisa kita lihat menghiasi jalan-jalan, rumah, toko, perkantoran dan fasilitas umum. Tahun ini nampaknya lebih rame dibandingkan tahun yang lalu. Tentu saja hal ini sesuatu yang sangat positif. Mudah-mudahan berkelanjutan untuk tahun-tahun mendatang.

Pagi tadi saya sempat ‘lirik-lirik” isi berita pada harian pagi terbitan daerah. Masih banyak liputan tentang kemeriahan tujuhbelasan. Saya juga sempat baca ‘hadiah jalan-jalan” buat Tim Paskibraka  Prov Bali ke luar daerah. Saya dengar pula Paskibraka di kota saya, Gianyar, juga dapat hadiah yang sama.

Tentu saja saya setuju, kalau daerah punya uang dan anggaran untuk itu tersedia, sudah sepantasnya mereka mendapatkan hal tersebut. Berminggu-minggu bahkan mungkin sebulan penuh, setelah proses seleksi mereka digembleng, pagi, siang sore untuk mengemban tugas mulia ini. Untuk  memudahkan koordinasi (pengawasan) & mendapatkan hasil (penampilan) yang prima mereka juga dikarantina, ditempatkan di  tempat yang sangat layak (hotel).

Saya jadi teringat tatkala masih SMA dulu, ketika kelas dua, betul-betul bergairah menyiapkan diri untuk mengikuti seleksi Paskibraka nasional. Saya benar-benar optimis,  punya dua modal besar: dari sekolah favorit dan punya prestasi (SMAN 1 Gianyar), juga sebagai Pramuka aktif (ketua ambalan Dharma Wangsa). Namun Dewi Fortuna sepertinya kurang berpihak, ternyata saat itu seleksi tingkat kabupaten ditiadakan, pakai sistim penunjukkan (ke salah satau SMA lain langsung berkompetisi di Denpasar). Kenapa seleksi di kabupaten ditiadakan? Pasalnya setiap seleksi di kabupaten, selalu siswa (pramuka) di sekolah kami yang lolos. Jadi tahun tersebut pemkab mengambil kebijakan seperti itu. Akhirnya saya sudah ‘kalah sebelum bertanding’

Toh saya selalu bersyukur, karena tahun tersebut untuk Paskibraka di kabupaten ditunjuklah SMA kami. Dibawah gemblengan dari KORAMIL, saya diberi kepercayaan sebagai salah satu  tim pengibar bendera. Saya masih ingat, dari 3 orang pengibar bendera, saya berada diposisi kanan sebagai  pengerek tali bendera. Ada yang menarik, salah satu tim Paskibraka saat itu adalah siswa asing (Australia) yang mengikuti pertukaran pelajar. Lupa namanya (John Kelly ?). Seandainya Pemkab Gianyar ‘rapi menyimpan file’, mungkin peristiwa tersebut masih bisa kami liat lewat ‘foto’.

Ini kisah ‘lampau”, tahun 1983, wow… sudah 20 tahun yang lalu. Tahun terus merambat, zaman telah berubah.

Saya sangat memaklumi perubahan zaman tersebut. kami tim Paskibraka menyiapkan sendiri baju putih lengan panjang dan celana putih, juga ikat pinggang dan sepatu hitam. Saat itu paskibraka kabupaten tidak menggunakan jas paskibraka seperti sekarang ini. Kami hanya dapat pembagian peci hitam dengan pin Garuda Pancasila dan scarf merah, yang setelah upacara selesai harus dibalikkin lagi, ha..ha…

Setiap hari kami berangkat menuju lapangan Astina Gianyar dari sekolah atau rumah masing-masing, pulang juga sendiri-sendiri, tidak ada pemondokan. Teman-teman saya ada yang berasal dari Blahbatuh, Sukawati dan Ubud. Baru sekarang saya berfikir, bagaimana kalau salah satu dari kami ada yang tiba-tiba sakit atau kecelakaan di jalan, bagaimana cara penggantian yang cepat, karena memang tidak disiapkan cadangan. Syukur kehadapan TYME, kami bisa melakukan tugas ini dengan baik (walaupun saat upacara penurunan bendera, diguyur hujan, karena basah bendera sempat lengket di tiang bendera).

Kalau dibandingkan dengan Paskibraka ‘zaman kekinian’ memang terasa kurang adil, tapi kalau kami bandingkan lagi dengan ‘perjoeangan’ pendahulu Republik ini, betapa hebatnya mereka melawan hambatan & keterbatasan. Dan apa yang kami lakukan saat itu, sungguh sangat menyenangkan…

DIRGAHAYU NEGERIKU….INDONESIA !!!
(maafkan kami, belum bisa berbuat banyak untukmu...)

Rabu, 14 Agustus 2013

"MEMULIAKAN AKSARA BALI"


Liburan 'panjang' Lebaran beberapa hari yang lalu, saya sempatkan 'bermain' ke Museum Seni Lukis Klasik GUNARSA, tentu saja bersama dua pangeran cilik saya, GungDe Putra dan GungDe Bagus. Bersyukur pula bisa ketemu dan ngobrol bareng Sang Maestro 'GUNARSA'. Ada hal yang sangat menarik....

Untuk memuliakan Aksara Bali dan dalam kaitannya dengan International Festival of Balinese Language (IFBL) Okt - Nov 2013, yang juga akan dihadiri oleh negara-negara luar, digelar pula kompetisi BALIGRAFI. Anda tertarik ikut kompetisi ini ?

Peserta wajib menyerahkan hasil karya yang merujuk pada bentuk-bentuk aksara Bali dan tentu saja bisa dibaca. Ekspresi aksara bebas, sesuai cita rasa pencipta, memiliki unsur harmoni. Bentuk karya bebas, bisa di atas kanvas, kertas, kayu, metal, dengan bahan pewarna cat minyak, cat air, pastel, tinta dan perada emas / perak.

Ukuran karya maks: 1X1 M, karya diserahkan paling akhir tgl. 31 Oktober 2013. Seluruh karya seni yang diseleksi panitia akan dipamerkan di Museum GUNARSA, tgl: 08-30 November 2013. Terbuka untuk umum.

Tidak ada salahnya Anda ikut, sambil berkarya... sambil memuliakan aksara & satra Bali yang adi luhung...!!!



Rabu, 17 Juli 2013

Es Puter ala Bali ‘JOVELLA’ Kini Hadir untuk Masyarakat Gianyar !!!


Pernah mencoba nikmatnya  Es Puter ? Rasanya tidak kalah dengan es krim impor. meski dibuat dari bahan yang sederhana tapi es krim ‘ala Indonesia’ ini  punya rasa dan ciri khas tersendiri.

Di beberapa daerah di Indonesia (di Jawa misalnya), es puter sering juga disebut  ‘es dung-dung’, pasalnya sang penjual umumnya menggunakan ‘identitas’ suara yang dikeluarkan dari gong kecil yang jika dipukul berbunyi ‘dung-dung-dung’. Sebuah gong dipukul untuk menarik  perhatian pembeli.

Es Puter dalam bahasa Inggris disebut ‘hard ice cream’ sering disajikan dengan roti tawar, cone, maupun dalam gelas plastik (cup plastik). Di berbagai perayaan seperti pernikahan, ulang tahun dan hajatan lain, baik di rumah, retoran dan hotel,  es puter juga dijadikan menu penutup hidangan  tradisional  khas Indonesia.

Rasa khas es puter memberikan kenangan tersendiri yang bisa menimbulkan rasa ketagihan untuk menikmatinya kembali. Yang membuat beda es krim pada umumnya dengan es puter adalah dari bahan dasarnya. Es puter dibuat  dari santan (dan atau dicampur susu, creamer), sehingga menghasilkan rasa gurih yang dipadu dengan buah asli seperti nangka, kelapa muda, alpukat, durian atau kacang ijo.

Mengapa makanan olahan yang satu ini dinamakan ‘es puter?' Karena disesuaikan dengan cara pembuatannya yang diputar. Adonan es puter dijadikan satu dalam wadah, kemudian diputar di dalam silinder bersuhu dingin  (-3 derajat C) sehingga mengental dan lembut.

Di Indonesia, es krim dibawa oleh Belanda dan dikonsumsi di ice cream saloon di kota-kota besar, seperti Jakarta, Surabaya, dan Semarang. Saat itu, es krim merupakan makanan mewah dan mahal. Lalu, agar lebih ekonomis, rakyat Indonesia mengganti bahan dasar es krim berupa susu, yang ketika itu sangat mahal, dengan santan. Santan yang terbuat dari kelapa ini banyak sekali terdapat di Indonesia, kemudian diolah menjadi es krim. Caranya, santan diaduk di dalam tong kayu, dengan campuran es dan garam selama 6-8 jam. Es krim santan ini kemudian dikreasikan dengan tambahan rasa lokal, seperti kelapa, kopyor, nangka, alpukat, ketan hitam dan lain-lain.

Nah…, kini Anda pun dapat menikmati kesegaran & kelezatan es puter ‘ala Bali’. Es Puter JOVELLA hadir buat melengkapi pesta Anda (pernikahan, potong gigi, ultah, selamatan, dll).



ES PUTER JOVELLA
d/a: DEPOT PURI AGUNG
Jl. Sakura (Serongga) Gianyar, Bali
Ph & fax: 0361 942584
(Flexi Mobile Ph: 0361 876 33 99)

Selasa, 02 Juli 2013

PEMILUKADAL (Bagian Ke-2) "TIDAK ADA MAKAN ‘MALAM’ YANG GRATIS"

Ketika materi sudah dimiliki, I Gede Lisardy demikian para kadal menyebut salah satu tokoh di negeri kadal yang punya angan-angan, pingin menjadi pemimpin di negeri kadal.

“Gimana caranya ya?”, pikirannya buntu. Ditariknya nafas dalam-dalam. Tiba-tiba ada seberkas cahaya di benaknya, semakin terang…., dan “Yes…., telah kutemukan jalannya” teriaknya keras-keras.

Segera ditelepon teman-temannya, bikin janji, makan malam sambil karaokean disebuah club malam. Disini, di acara dinner party ini, Lisardy akan mengutarakan maksud dan tujuan mengundang mereka.

Disebuah VIP room, Resto dan Night Club kondang dinegeri tersebut, Gde Lisardy sudah dikelilingi teman-temannya. Banyak. Ada teman dekat sewaktu SMA yang kini jadi pimpinan parpol PKK singkatan dari Partai Kebangkitan Kadal, ada pebisnis dan pemilik banyak media, antara lain Kadal Post, Kadal TV, News Radio ‘Suara Kadal’, pimpinan LSM ‘BARAKADAL’ singkatan dari Barisan Rakyat Kadal. Ada juga teman-temannya dari birokrat.  

“Tenang saja Mas Bro, bisa kita atur semuanya. Kalo Mas Bro pingin bertarung dalam PEMILUKADAL nanti, partai kami siap jadi kendaraan’, Komang Kadalarat memberi dukungan, sambil ngunyah makanan favorit para Kadal, tongseng nyamuk got campur telor bengu. Yummy….

“Cara dan syaratnya ?” tanya Gde Lisardy dengan cekatan. Matanya berbinar terang.

“Biasalah, pada periode awal kami pasti melakukan survey dulu, menjaring bakal calon. Tapi Mas Bro tenang saja, nama I Gde Lisardy, pasti nanti akan berada di urutan paling atas” Komang Kadalarat memberi harapan.

“Kalau sudah masuk bursa, Mas Bro kami panggil, kita bikin deal-deal dan komitmen. Jangan lupa siapkan sejumlah dana untuk ‘tiket kendaraan’ Kadal 1, biaya kampanye, belanja iklan media,  tim sukses, de el el. Setelah itu, baru kami keluarkan rekomendasi“, Komang Kadalarat melanjutkan penjelasannya.

Mata Gde Lisardy semakin mengembang, tanda dia sangat berharap.


“Bagaimana  bisa lolos bursa dan memenangkan rekomendasi, saya kan bukan public figure?” Gde Lisardy mulai cemas, diremas-remasnya tangannya sendiri.

“Saya dan team siap membangun citra Mas Bro. Paling tidak, dalam setahun nama & citra       I Gde Lisarda akan melesat dan melambung di awan, memesona semua orang, calon pemilih ha..ha…ha…” Komang Kadalwan terbahak, gigi-geliginya nongol semua, sampai sisa cabe masih keliatan terselip disela-sela gigi dan gusinya.

“Wah…, kok dari tadi saya aja yang ngomong ya? OK, untuk pelaksanaan survey dan pencitraan, barangkali Bli Tut Poleng bisa ngasi gambaran?” Komang Kadalarat melirik  Kadal Poleng yang ada di sebelahnya. Kadal Poleng adalah pimpinan Barisan Rakyat Kadal ‘ BARAKADAL’, adalah organisasi keormasan dan LSM terbesar di negeri Kadal.

“Saya sudah siapkan semuanya, mulai strategi pemilihan responden dan manipulasi data, sehingga dalam hasil survey nanti, hasilnya bagus” jawab Tut Poleng Kalem.

“Selanjutnya dalam pembangunan citra, sudah saya siapkan juga berbagai program, program unggulan kita adalah program bedah ‘song’ yaitu semacam bedah rumah dalam alam manusia. Karena rumah kita memang di ‘song-songe’ alias di lubang-lubang ha.. ha… masih banyak song para kadal yang tidak layak huni, lembab dan bau…”

“Terus….terus….” Gde Lisardy semakin terpesona

“Setiap aktifitas Pak Gde nanti, harus mendapat liputan luas-luasnya dari semua media, selalu nongol di TV, nampang di Koran, talkshow di Radio, selalu update di media on lain, juga di social media seperti: Fishbox, Sweeter, PalingKendel. Kita akan alihkan opini public ke sosok I Gde Lisardy, sebagai pemimpin masa depan dengan janji-janji perubahan yang lebih baik”

Gde Lisardy benar-benar seperti berada di atas awan, harapan dan mimpi-mimpinya seperti sudah jadi kenyataan

“Terimaksih kawan-kawan, terimakasih atas dukungannya, saya tidak akan melupakan jasa-jasa kalian. Beberapa projek bisnis nan strategis nanti untuk kalian semuanya, yang di birokrat sudah saya siapkan juga ‘kursi-kursinya’’

Malam semakin temaram, tapi hati para kadal yang ikut acara undangan dinner makin benderang. penuh harap & optimistik. 

Menyiapkan projek PEMILUKADAL. Waktunya tinggal  15 bulan lagi. Sebuah rangkaian waktu yang tidak panjang lagi. Derai tawa para kadal semakin kencang. Sayup-sayup terdengar cekikikan manja para kadalwati, yaitu sejenis CO alias ‘Cadal Orderan’ yang bisa menemani mereka sampai pagi.

Pada saat yang sama, para istri kadal sudah pulas di rumah masing-masing. Sebagian terjaga dan tidak mendapatkan ‘pejantan’ disebelahnya. Mereka hanya bisa pasrah, memandang langit dan mempelajari bintang-bintang. Air matanya meleleh dari ke dua sudut mata istri yang tertekan…

(Ilustrasi Foto: semulucu.blogspot.com)

Sabtu, 29 Juni 2013

Cerkon (Ceritera Konyol) "Pesta Topeng"

Sudah seminggu wajah Pak Jaya Nampak  muru….ng  terus, begitu banyak pekerjaan kantor yang harus dia selesaikan. Kerja….kerja…& kerja, begitulah adanya.  Wajahnya semakin murung ketika Pak Jaya memegang kertas undangan Pesta Topeng dari temen bisnisnya yang orang bule dari Belanda. Dikipas-kipaskannya undangan tsb dimukanya, siapa tahu bisa lebih segeran dikit.

“ah ada aja Si Bule ini, apa ndak ada cara pesta yang lebih seru, masak pesta topeng sih?”, gumamnya

“Ada apa nih Pa...?” terdengar suara lembut istrinya yang langsung  membuyarkan lamunannya. Tak sepatah katapun keluar dari bibir  Pak Jaya, diliriknya istrinya sambil menyerahkan surat undangan itu

“Oh…Undangan Pesta Topeng dari Van Miller” kata istrinya sambil memperhatikan kertas tersebut

“Bapak mesti datang lho…, ngga’ enak sama dia, kan udah banyak bantu bisnis kita”, sambung istrinya lagi

“Bapak akan usahain ya, tapi tolong beliin topeng dan asesorisnya ya Ma” jawab Pak Jaya, seraya ngeloyor ke kamar mandi.

Menjelang acara pesta topeng, istri Pak Jaya sibuk mencari tokoh topeng yang pas buat suaminya. “Topeng Zoro?, ah udah biasa!, Batman?  apalagi yang ini, sudah terlalu umum” pikir istri Pak Jaya. Tiba-tiba dia ingat ceritera Ramayana. “ah… Topeng Hanoman saja, sama busananya lengkap”, Istri  Pak Jaya senyum-senyum membayangkan suaminya nanti akan pakai busana & topeng Hanoman. Dia merasa sreg saja, karena tokoh Hanoman perutnya Sixpack, jadi pas dengan Pak Jaya yang bodinya juga masih atletis dan cukup seksi.

Akhirnya malam Pesta Topeng datang juga. Tiba-tiba istri Pak Jaya jadi gusar. Apakah suaminya jadi datang ke pesta tersebut. Atau siapa tahu di pesta tersebut bisa saja suaminya jelalatan, kan tidak dalam pengawasan sang istri? Rasa penasaran untuk menyelidiki suaminya semakin kuat, Istri pak Jaya pun semakin bingung.  Akhirnya dia memutuskan untuk datang saja ke pesta topeng. Entah dari mana dia dapat ide, tiba-tiba dia sudah pakai topeng  Cat Women dan meluncur ke rumah Van Miller.

Sampai di Rumah Van Miller, pesta sudah mau bubaran. Istri Pak Jaya clingak clinguk cari tokoh Hanoman…. “Nah itu dia di pojok sana” Istri Pak Jaya menemukan tokoh yang pakai baju Hanoman yang dia beli. Tapi… tiba-tiba dia terkejut. Kok berani-beraninya Hanoman memangku seorang gadis yang juga bertopeng . “Ah…ternyata benar dugaanku, berarti suamiku emang jelalatan bin gatel”, suami Pak Jaya geram. Dia mencari saat yang tepat untuk mendekati  suaminya.

Ketika gadis bertopeng meninggalkan Pak Jaya, istrinya segera mendekat. Dia berusaha menarik perhatian dan menggaet suaminya. Dia merayu sang  Hanoman untuk bisa kencan di tempat lain setelah pesta topeng berakhir. Sang Hanoman menyetujui  dengan syarat tetap memakai topeng saat kencan nanti.  

“Ah…., kurang ajar suamiku ini,  benar-benar telah berani selingkuh dibelakangku” Istri Pak Jaya semakin geram, tapi tetap ditahannya emosinya.

Setelah pesta topeng berakhir, mereka meluncur kearah  Padang  Galak, cari hotel, cari tempat kencan yang aman. Malam semakin larut, udara dingin membeku. Mereka melewati malam  berdua di kamar hotel ….(sensor).

Keesokan harinya  Istri Pak Jaya sudah tidak sabar menunggu suaminya, dia ingin tahu apa ‘karangan ceritera’ suaminya nanti tentang pesta topeng. Ketika mobil suaminya masuk garase, Istri pak Jaya segera menghampiri suaminya, ditahan-tahannya perasaannya.

‘Ah….Papa udah pulang, pasti capek banget ya? Gimana pesta topengnya tadi malam?’, Istri Pak Jaya berusaha berlaku manis

‘Aduh Ma…, maapin Papa ya, tadi malem mendadak ada kesibukan lagi di kantor. Papa harus lembur lagi. Agar tidak mengecewakan undangan Pesta Topeng Van Miller, terpaksa topeng & busana Hanoman Papa serahkan
ke Pemulung yang biasa mungutin barang bekas di kantor ‘


‘Ah…..apa Pa?’ istri Pak Jaya menjerit , lalu  pingsan ……

Jumat, 28 Juni 2013

PEMILUKADAL (Bagian Pertama) "Buaya Elu Kadalin"

Tidak jelas tempatnya, semuanya berwajah kadal, berperilaku kadal, karena inilah negeri kadal, yang penduduknya semua ber’ras kadal. Dari kekayaan alam, sebenarnya negeri kadal sangat berlimpah. Sayang memang SDM nya masih lemah, sehingga negeri kadal tetap saja jadi negeri miskin. Kemakmuran yang dicita-citakan hanya baru bisa dinikmati oleh segelintir kadal. Sangat gampang melihat dan membedakan mana kadal yang sudah makmur dan yang masih kere. 

Kalau kadal yang makmur jalannya sudah bisa tegak, sedangkan yang miskin, kere, jalannya masih tetap melata, inilah yang disebut golongan rakyat melata (dalam kamus bahasa manusia artinya sama dengan rakyat jelata). Sensus termutakhir menyebutkan bahwa rakyat melata jumlahnya mencapai 97% dari total populasi masyarakat di negeri kadal, jomplang banget !

Matahari bersinar dengan teriknya, udaranya panas. Sesekali debu beterbangan dihempas angin. Wajah kota yang setiap harinya biasa-biasa saja, siang itu sedikit gempita. Alun-alun kota disesaki rakyat melata. Ada umbul-umbul dan bendera warna-warni menghiasi jalan di seputaran alun-alun, sebagian ditancepin di pohon-pohon. Suara music berdentum-dentum di audio speaker, ada apa ya?

Bahwa pada hari Krishnapaksa, sesuai dengan kalender di negeri kadal  yang jatuh pada bulan mati, 15 hari sebelum pergantian tahun baru, bangsa kadal akan memilih sepasang pemimpin mereka. Pemilihan ini akan melibatkan partisipasi masyarakat umum diseluruh negeri, tentu saja bagi yang sudah berhak memilih. Hari baik ini mereka namakan PEMILIHAN UMUM Negeri KADAL, kalau disingkat menjadi PEMILU KADAL.

Rupanya gegap gempita di alun-alun kota siang hari itu, sudah siap didaftarkan satu paket calon PEMIMPIN KADAL oleh para pendukung dan relawannya, baik dari golongan eksklusif, yaitu para kadal yang sudah bisa berjalan tegak, siapa tahu jagoan menang bisa dapat ‘jabatan empuk’ nantinya. Juga dari kaum kadal yang masih melarat, kalangan rakyat melata, yang memanfaatkannya sebagai medium ‘ngalap berkah’ dari setiap even seperti ini.

Di dalam hati sang kandidat selalu berkata, “mau-maunya kau ku kadalin, panas-panas begini, bersedia sorak sorai, demi sebungkus makan siang  dan  UK 50.000,-“ sebagai pengganti uang transport. (UK = Uang Kadal, mata uang resmi di negeri kadal).


Sementara rakyat melata juga bergumam dalam hati, “emang gue pikirin, besok kalau ada kandidat lain yang minta dukungan, dengan servis yang memuaskan, gue siap bergegap-gempita lagi bareng teman-teman, BUAYA ELU KADALIN …!!!” He..he… masak kadal bisa ngomong elo dan gue, gaul bangetsss, wkwkwkwwk….. 

(Bersambung & Baca : PEMILUKADAL bagian ke-2)
Ilustrasi gambar diambil dari: bagussevens.blogspot.com)

Kamis, 27 Juni 2013

Langkanya Nama: Wayan, Nyoman dan Ketut

Suatu hari saya sedang mberisin beberapa file di kantor. Satu project  baru saja selesai untuk klien kami ’Lomba Bayi Sehat & Ibu Hamil. Ada sekitar 500 lembar kopian akte kelahiran sebagai salah satu persyaratan lomba yang harus dirapikan kembali penempatannya. Iseng saya perhatikan nama-nama tersebut, wah.... luar biasa, bagus-bagus sekali, Perhatikanlah beberapa nama-nama berikut: Putu Ayu Marscha Kiaradiva Brahmantya, Putu Karina Erunisa, Gede Fabian Putra Miharja, Ida Ayu Keshia Arundhati Prasista, I Gusti Ayu Sephira Oveliani, Ni Kadek Una Grimonia Manusmara, Ni Putu Keyla Anabel Putri Harimawan, ...

Pikiran saya tiba-tiba jadi ’liar’, kok ya dari ratusan nama tersebut, hampir tidak ditemukan nama Wayan, Made, Nyoman, Ketut?. Ini Bali lho...! Nama-nama depan yang biasa dipakai oleh anak-anak pada jaman saya. Saya juga tidak tahu mulai kapan nama Wayan, Made, Nyoman & Ketut mulai dipakai oleh orang Bali, dan kenapa nama-nama tersebut mulai langka dipakai oleh anak-anak yang terlahir pada masa sekarang?

Informasi yang pernah saya dengar bahwa nama Wayan, Made, Putu & Ketut adalah sistem KB (keluarga berencana) orang Bali zaman dulu. Sebuah kearifan lokal orang Bali dalam merencanakan anggota keluarganya. Mereka telah merencanakan 3 (tiga) anak dalam perkawinannya.
  • Wayan (wayah / wayahan = tua) atau terkadang disebut Putu adalah nama anak tertua.
  • Made (Madya) artinya ’tengah’ diberikan kepada anak yang terlahir ditengah-tengah (nama Made ’dimanja-manjakan’ penyebutannya jadi : ade’, adek, terus menjadi Kadek). Anak yang terlahir di tengah-tengah ini juga secara vulgar disebut ’ I Nengah’.
  • Anak terakhir atau paling muda (= anom) disebut Nyoman (juga sering dimanja-manja penyebutannya jadi Komang, di Singaraja nama Komang juga disebut Koming).
  • Lalu Ketut? artinya ’extra’ alias ’kitut’ atau ikutan.


Masa sekarang, nama Wayan sudah kurang laku, orang tua lebih memilih nama Putu atau Gede buat anak pertamanya, saya kurang ngerti, apa alasannya. 

Nama Made masih dipakai walaupun jarang-jarang, orang tua lebih suka memberi nama Kadek atau nama Gede lagi buat anak lelaki keduanya. 

Sedangkan nama Nyoman, Komang & Ketut, sudah hampir tidak kita temukan pada akte kelahiran bayi-bayi masa sekarang. Kenapa? Karena orang Bali sekarang sudah merencanakan cukup 1 atau 2 orang anak saja